Semangka Tanpa biji Matroji, Laris Manis

by
Seperti Bisanya, Matroji berjualan di depan pintu masuk Pelabuhan tanjung Perak, Surabaya. Ia memilih temopat tersebut, karena strategis. Selain itu, jika ada masalah dengan semangka yang dibeli penumpang, tidak ada bisa komplain. Soalnya pembelinya takut ditinggal ka[al.

Tapi tidak dengan hari itu. Matroji dikomplain pembelinya, gara-gara semangkanya tidak sesuai dengan pronosi yang ia tulis di spanduk, depan pintu masuk.

“Bapak ini bagaimana, katanya semangkanya  tanpa biji. Ini bapak lihat sendiri,” bentak Munadar sambil memperlihatkan semangka yang sudah dibelahnya.

“Tenang bapak. Jangan marah dulu. Nanti saya jelaskan,” bela Matroji.

“Tidak bisa. Bapak telah menipu kami. dispanduk bapak tertulis, Jual semangka manis, tanpa biji. Ada biji satu, kembalikan. Ini sesuai dengan janji bapak. Saya kembalikan dan mana gantinya. Ayo cepat, kapal 

keburu berangkat,” bentak Munandar.

“Loh kenapa marah-arah,” Jawab matroji

“Yak arena bapak bohong,’ tambah Munanar

“Sampaian ini bagaimana. Mestinya sampean senang. Beli semangka dapat bonus kuwaci. Sampean kumpulkan biji semangkanya. Sampai di rumah, buat kwaci,” Matroji membela diri.

Munandar tidak meladeni belaan Matroji. Ia buru-buru pergi. Mengingat, tanda kapal akan berangkat sudah berbunyi tiga kali. Munandar merelakan samangkanya tidak diganti. “Daripada ngladeni penjual semangka, mending balik ke kapal. Takut ditinggal,’ gerutu munandar di dalam hatinya.

Sementara Matroji, tidak menyangka akan dikomplain pembeli. Belasan tahun jualan semangka di tempat itu, baru pertama kali dikomplain. Tapi gak masalah, yang penting semangkanya laku dn tidak dilaporkan polisi, kalau dirinya menipu.

“Jualan kalau tidak bohong, mana bisa laku,” pikirnya.



@Jangan ditiru tak-tik dan tekhnik berjualan Matroji. Bisa-bisa anda dilempar semangka oleh pembeli.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *