Parjo Tetap Miskin

by

Sampai kapanpun data kemiskinan di Indonesia tidak akan pernah akurat. Korbannya adalah Parjo tetangga saya yang tak pernah mendapat bantuan. Padahal, ia tergolong miskin kalau dibanding dengan tetangganya yang seorang PNS.
Parjo adalah salah satu korban dari ketidakseriusan pemerintah sebelah, dalam mencacah penduduk miskin. Meski telah direvisi dan validasi data berulangkali dilakukan serta, hasilnya selalu merugikan rakyat miskin Parjo dan Parjo-Parjo yang lainya belum bisa menikmati  kebaikan pemerintah.
Sepanjang massa masalah itu tidak pernah terpecahkan. Para pakar statistik belum menemukan formula sehingga data akurat. Sensus ekonomi hanya formalitas siklus 10 tahunan. Hasilnya, masih terjadi gesekan saat bantuan kemiskinan digulirkan. Mattali dan tetangganya masih menanyakan ke ketua RT-nya, mengapa dirinya tak dapat bantuan.
Parjo dan Mattali selalu komplain saat ada serah terima bantuan di desanya. Pertanyaannya, Gimana pak RT ini, Wak Jo yang punya mobil, Si Mirna yang penyanyi dangdut sekali tampil sejuta, kok dapat raskin. Bahkan Parjo dan Mattali mengancam tidak akan memili lagi Pak RT-nya yang berlaku diskriminatif.
Karena tak tahan omelan dan ancaman arganya, Sampai-sampai ketua RT-nya menginap di rumah mertuanya ketika pemerintah mengucurkan bantuan. Ya, ketua RT menghindar dari pertanyaan ketidak-puasan. “Gak dadi Pak RT, gak pate’en,” pak RT ngrundel karena sering dipisui warganya.
“Itu masih mendingan, daripada kakak kelasku yang dibui lantaran membagikan raskin ke seluruh warganya,” ujar Bowo yang menganggap Pak RT dipisui warga merupakan prilaku yang wajar. Sebagai ketau RT Bowo membagiratakan raskin ke seluruh warga agar tidak ada complain. Niatan baik itu ternyata berujung duka,
Bowo dilaporkan Suwage, lantaran jatah raskinnya berkurang, tidak sesuai dengan kupon pengambilan. Polisipun bergerak hingga kasus Bowo sampai ke meja hijau pak hakim. pak RT Bowo diputus setahun, karena mengurangi timbangan. “Raskin itu beras miskin. Berikan ke warga miskin. Jangan diberikan ke orang kaya,” hakimpun meninggalkan ruangan.   



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *