Open Matroji

by

Matroji menahan lagkahnya ketika hendak masuk sebuah tempat perbelanjaan di Kota Surabaya. ia tidak berani masuk karena membaca tulisan open di pintu masuk. matroji berfikir ini tulisan peringatan. Bayangannya, open kue yang ada di rumahnya.

Ketakutan akan hawa panas, Matroji tidak berani masuk. Ia tertegun dan melongo di depam pinti, sedang pikirannya kemana-mana. “Masak open sebesar ini. saya gak pernah kelihatan, baru ini saya liat. Mau masuk, takut gosong,” katanya dalam hatinya.

Pikiran itulah yang membuat lelaki asal Madura ini, tidak berani masuk. Ia tambah heran saat datang rombongan, tanpa tolah-toleh masuk nylonong ke pusat hiburan tersebut. “Guh….gimana itu orang. Open kok dimasukin. Berarti pemberani mereka,” katanya dengan logat maduranya yang belum hilang.

Tak berapa lama, rombongan warga Tiong Hwa masuk. disusul touris asing asl Eropa dan Amerika. “Katanya orang barat ter-pinter. Kok open dimasukin. Memangnya mereka gak bisa baca tah,” tambah Matroji dalam hatinya.

Sambil menunggu teman-temannya yang berjanji akan menyusul, Matroji bersandar di tiang cor dekat pintu masuk, sambil sesekali tolah-toleh melihat temannya barangkali sudah datang. Ia menghentikan bermain hand phone-nya, saat melihat segerombolan warga Afrika keluar dari pusat perbelanjaan tersebut.

“Nah,…gimana … gosong kan. Sudah tahu open dimasukin. Untung saya gak ikut masuk. Kalau saya masuk gosongnya lebih hitam dari mereka,” pungkas Matroji sambil terpingkal-pingkal. “ah open–open. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *