Matroji Ngeyel, Perdagangan Bebas

by
Perdagangan Bebas 

Sudah beberapa hari, lapak Matroji, sepi. Kala terus-terusan seperti itu, alamat anaknya enggak bayar SPP. Matroji dan Munandar, sahabat karibnya kemudian menutup lapknya di dalam pasar. Mereka berdua pindah jualan di luar pasar. Tempat yang dipilihnya adalah depan kantor pemerintah setempat. 
Tentu saja, ulah dua pedagang sayur dan lauk (Ikan) ini membuat jengkel bupati setempat. Melalui Satpol PP, sang bupati memerintahkan agar dua warganya tersebut tidak berjualan di depan kantornya. Alasannya klasik, kantor bupati kotor dan bisa-bisa anugrah Adipura Kencana yang diraihnya, dicopot. 
Setengah jam menggelar dagangannya di depan kantor bupati, jualan matroji dan Munnandar, nyaris habis. Tk disangka, tiba-tiba petugas Satpol PP berseragam lengkap berhenti di depannya. Tanpa banyak bicara, anggota satpol PP mengankut dagangan mereka. Sementara pimpinannya berhadap-hadapan dengan Matroji dan Munandar. 
“Bapak ini mau jadi apa. Kok tanpa peringatan, dahangan kami diangkut,” Tanya Matroji.
“enggak usah banyak nanya. Semua orang tahu kalau jualan di depan pemkab, dilarang… Tahu…Dilarang,” ujar pimpinan Satpol PP. 
“Enak saja,… emang ini tanah nenek moyang bapak.. Sekarang ini perdagangan bebas pak. Masak bapak sebagai pegawai tidak tahu ….kalau pemerintah pusat sudah mencanangkan  perdaganga bebas,” tantang Munandar.  
“Tanya dulu dong….dulu dong. Jangan moro-moro dagangan kami diangkut,” Matroji Menimpali. 
“Sampean tahu apa itu perdagangan bebas. Perdagangan bebas itu, siapapun boleh berdagang. Berdagang dimanapun boleh, tidak ada yang melarang-larang, termasuk bapak,” tambah Matroji. 
Mendapat keterangan seperti itu, pimpinan Satpol diam saja. 
‘Yang namanya perdagangan bebas itu pak, kita bebas berdagang dimana saja. Tidak peduli di depan pemkab. Bebas….dan sampean tidak punya hak melarang kami,” ujar Munandar menambahkan. 
“Ayo turunkan dagangan kami. Kalau tidak saya akan lapor polisi. Kalau bapak telah melakukan perbuatan perbuatan tidak menyenangkan di muka umum,” tambah Munandar. 
Mendengar alasan seperti itu, Sang komandan Satpol PP diam saja. Ia tidak meladeni, alasan  pedagang yang  maunya sendiri tersebut. 
Usai menurunkan barang dagangan milik dua pedagang itu, petugas langsung tancap gas. Satpol PP menganggap peagang salah mengartikan perdagangan bebas.
“Pemerintah perlu sosialisasi lagi soal perdagangan bebas ini. Agar masyarakat tidak keliru persepsi hingga maunya sendiri,” pungkas komandan Satpol PP yang diangguki anak buahnya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *