Matroji Bingung

by

Tiba di Jakartan Matroji tidak membuang-buang kesempatan. Ia segera kepingin keliling ibu kota. Saat ada kesempatan, iapun melampiaskan keinginannya.


Bus kota jalur panjang menjadi pilihannya. Matroji sengaja memilih duduk di dikursi deretan belakang pojok kanan. Maklum, ia akan turun di terminal paling akhir.

Tak lama berselang, Matroji dikejutkan teriakan sang kondektur. “Sudirman, sudirman. Ayo yang mau turun, persiapan,” sang kondektur memberi peringatan ke seluruh penumpang.

Bruul… Penumpang yang turun di jalan itu berdiri hampir bersamaan. Tua-muda, laki-perempuan bergegas menuju pintu keluar. 

Matroji yang duduk di pojok kanan belakang, terheran-heran sambil berdiri. “Masak. Sudirman semua namanya,” pikirnya.

Bersamaan itu pula, bus meneruskan perjalanan setelah dirasa tidak ada lagi pnumpang yang turun dan naik. Sebelum memasuki jalan Thamrin, si kondektur mengingatkan penumpang lagi. “Yang Thamrin persiapan,” katanya berulang-ulang

Sama seperti awal, Matroji mengira yang turun dan naik bus, seluruhnya bernama Thamrin. “Orang perempuan sini kok namanya Thamrin semua. Nama laki laki kok dipakai perempuan,” katanya dalam hati seraya memperhatikan penumpang yang berrjubel di pintu keluar.

Begitu juga saat bus hendak masuk ke di jalan Tjut Nya’ Dhien, sang kondektur memberi peringatan lagi. “Ayo… yang Tjut Nya’ Dhien, sudah dekat, teriak kondktur. Hampir seluruh penumpan turun di jalan tersebut.

“Laki laki kok pakai nama perempuan,” tukas Matroji. Penumpang bus-pun tinggal tiga, termasuk Matroji. Dua penupang itu kemudian turun di sebuah halte. Tinggal Matroji sendirian di dalam bus kota itu. Ia nyantai, menunggu dipanggil sang kondektur.

“Saya koq gak dipanggil-panggil ya,” pikir Matroji. 

Lantaran tinggal satu penumpang, si konedktur bertanya ke Matroji. “Bapak turun di mana. Nih sudah hhampir nyampek terminal terakhir,” tanya kondektur

Ditanya begitu, pria paruh baya asal Madura ini mengatakan. “Sampean ini bagaimana, kok saya tak dipanggil-panggil. Ya jelas saya gak turun,” gertak Matroji.

“Loh memang bapak siapa namanya,” kondektur.balik bertanya

“Saya Matroji,” jawabnya.

“Loh di Jakarta itu tidak ada jalan Matroji. Bapak turun siini saja,” pinta sang kondektur.

Matroji pun tolah-toleh kebingungan setelah diturunkan di tengah perjalanan. Ia tidak tahu jalan pulang.
   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *