Lebih Sakit Sunat, Ketimbang Melahirkan

by
Salah seorang ibu, usai melahirkan di Bidan
Seperti biasanya, setiap jam mau pulang sekolah, Pak guru Munandar selalu memberi pertanyaan kepada murid-muridnya. Siapa yang bisa menjawab boleh pulang lebih awal dan yang dipilih menjawab pertanyaannya, adalah murid yang mengacungkan tangannya paling cepat.

“Hai anak-anak. Siapa yang mengacungkan lebih dulu dan bisa menjawab pertanyaan saya, langsung bisa pulang,” kata Munandar.

“Hore….,” jawab murid hampir serempak.
“Saya bisa pak guru,” kata Warsito, sambil mengangkat tangannya.

“Saya juga Pak Guru,” jawab yang lain bersahutan  ‘Loh gimana kamu itu. Pertanyaannya belum. Kok sudah pada ngacung (Angkat Tangan).” Sela Pak guru

“Ayo pak guru, kita sudah lapar. Mana pertanyaannya,” pinta Matroji.

Didesak muridnya, Munandar kemudian melempar pertanyaan kepada muridnnya
“Oke lah kalau begitu. Pertanyaannya, lebih sakit mana, melahirkan dengan sunat. Ayo siapa yang tahu, angkat tangan,” kata Munandar.

“Saya pak guru,” Wahyu yang dari tadi diam, memberanikan mengangkat tangan.

“Berhubung Lisna yang angkat tangan duluan, maka dia yang menjawab dulu. “ ayo , apa jawabannya Lisna,” pinta Munandar.

“Lebih sakit melahirkan pak. Soalnya, saat ibu saya melahirkan adik saya, ibu opname satu bulan di rumah sakit. Sedang kakak saya, saat masih kecil, selesai sunat, langsung pulang. Bahkan langsung main sama teman-temannya,” jawab Lisna.

“Jawaban Lisna, betul. Tapi kurang tepat. Lisna jangan pulang dulu ya,” ujar gurunya.
“Sekarang giliran Wahyu. Ayo wahyo lebih saki melahirkan apa sunat,” Munandar kembali mengulan pertanyaannya.

Jawaban Wahyu, sama dengan jawaban Lisna.
“Jawabannya sama pak. Ibu saya juga operasi saat melahirkan adik bungsu saya. Sedang temanku selesai sunat, enggak nangis sama sekali pak,” jawab Wahyu,

“Jawaban Wahyu juga benar. Tapi masih kurang pas,” kata Munanar.

“Ayo anak-anak, Siapa lagi yang bisa menjawab,” tambah Munandar.

Matroji yang awalnya diam peras otak, akhirnya memberanikan diri angkat tangan. “Saya bisa pak guru,”

“Ya,…ayo Matroji, apa jawabannya,” kata Munandar sambil menunjuk Matroji.

“Menurut saya, Lebih sakit orang sunat. Jawab Matroji
“Alasannya,? Sela Munandar.

“Orang sunat itu kapok (Jera) Tidak ada yang mau sunat lagi. Ya, karena sakit. Sedang orang melahirkan tidak kapok-kapok. Buktinya, tetangga saya, sampai punya anak lima. Dia melahirkan sampai lima enggak kapok-kapok. Berarti kan tidak sakit melahirkan itu,” ucap Matroji.
Pak Munandar,. Mendengar jawaban Matroji, manggut-manggut. “Benar juga. Matroji, ekarang boleh pulang duluan. Sedang yang lain, nunggu jam pulang, ya,” pungkas Munandar. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *