Gereja Ini, Hanya Ada Satu di Indonesia

by
Gereja merah. (FOTO: GUSMO)

Gereja ini, berada di Kota Probolinggo, tepatnya di Jalan Surioyo. Dikenal dengan nama gereja merah, karena seluruh bangunannya bercat merah. dibanding gereja kebanyakan, luas gereja yang menghadap ke timur ini kecil, yakni hanya berukuran lebar 10 meter dan panjangnya 23 meter. Meski demikian, gereja ini jangan dipandang sebelah mata. Sebab, memiliki nilai sejarah.

Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat ini, diberi nama Immanuel dibangun tahun 1862 oleh Belanda dan dipastikan hanya ada satu di Indonesia. Karena ditahun itu, Belanda hanya membuat dua. Satu ada di Belanda, dan yang satu dikirim ke Kota Probolinggo. Dua gereja tersebut, ukuran serta bagian-bagiannya sama persis, hanya catnya yang berbeda. Dari negeri asalnya, gereja ini bercat putih, namun beberapa tahun kemudian, saat Belanda meninggalkan Indonesia, diubah menjadi merah.

Hingga kini, belum diketahui alasannya. Gereja yang masih berdiri kokoh tersebut, dibuat dan dirancang di Negeri Belanda dengan system knock-don alias bongkar-pasang. kemudian dikirim dan dipasang (Didirikan) di Kota Probolinggo. Masih misteri, mengapa Belanda mengirim gereja bongkar-pasang itu ke Kota Probolinggo. Kini gereja tersebut berusia 155 tahun dan masih ditempati, bahkan banyak dikunjungi wwisatawan Manca negara, terutama Eropa dan Amerika.

Gereja protestan ini menampung sekitar 180 jemaat. Gereja tersebut juga memiliki Cawan (Teko) Sloki (Gelas) dan bejana pembabtisan yang usianya sama dengan gereja. Selain itu, terdapat kitab yang bertuliskan Biblia tahun 1618 ende 1619. Kitab berbahasa Belanda kuno ini kertasnya berbahan kayu dan kulit ular. “Ini tulisan Belanda kuno. Orang Belanda yang datang ke sini banyak yang enggak bisa membacanya,” ujar pengurus gereja.

Ruangan dalam gereja merah

Kini oleh pemkot Probolinggo, gereja tersebut dijadikan destinasi wisata dan telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya, tang tidak boleh dibongkar serta diubah bentuknya. Sejak kemerdekaan sampai sekarang, gereja ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Terutama wisatawan dari Belanda. Warga negeri kincir angin yang pernah tinggal di Indonesia, anak cucunya banyak yang bernostalgia di gereja tersebut.

Penulis : gusmo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *