Abu Nawas jadi Tabib

by
Pada suatu hari, penguasa Irak Raja Harun Al Rasyid ketika itu, diserang penyakit aneh. Sekujur tubuhnya terasa pegal dan kaku, panas dan susah bergerak. Penyakit barunya itu  bertambah parah, karena sang Raja enggan makan.

Hampir selurih tabib dipenjuru negeri padang pasir itu, didatangkan untuk mengobati sang raja. Hanya saja, tak satupun yang bisa menyembuhkan. Padahal, beberapa macam dan jenis obat ramuan, telah diminumnya, namun tek membuahkan hasil.

Sang Raja tak patah arang, segala cara dilakukan agar sembuh. Termasuk mengadakan sayambara. Bagi yang bisa menyembuhkan penyakit raja, hadiah menanti di istana dan akan diserahkan langsung oleh baginda. Meski kala itu belum ada HP android, kabar sayembara berhadiah besar itu, sampai juga ke telinga Abu Nawas.
Ia memacu kudanya kencang, ingin segera sampai di istana. Kedtangan Abu Nawas mngejutkan Raja Harun, karena tidak biasanya dan tak diundang. “Ada apa engkau tegopoh-gopoh datang ke istana” Tanya si raja.
“aku mau ikut sayembara, paduka,” jawab Abu Nawas”Setahuku engkau bukan tabib, tapi engkau kok mau ikut sayembara?
“Masak tuan raja tidak mendengar, kalau aku sekarang bisa ngobati orang sakit.
“Benarkah?  Berarti engkau bisa menyembuhkan penyakitku.
“Oh, tentu saja Baginda. Sebenarnya apa sih penyakit tuan? Tanya Abu Nawas
“Aku tidak tahu. Seluruh tubuhku terasa sakit semua,” keluh sang Raja
Mendengra itu, Abu Nawas tertawa, Ha ha ha ha….
“Hei Abu Nawas. Kenapa engkau tertawa. Apa ada yang lucu,” Tanya  sang raja.
“Tidak tuan. Penyakit baginda mudah sekali obatnya.
“Benarkah ? Tolong sebutkan nama obatnya dan dimana aku bisa mendapatkan.
“Obatnya, telur onta, tuan bisa mendapatkan di kota Baghdad ini.
Mendengar perkataan Abu Nawas, sang Raja ingin segera mendapatkan telur onta.
“Hei Abu Nawas, awas kalo kamu berbohong. Aku hukum kamu,” ancam sang Raja.
“Cari dulu telur Unta itu, jangan ngancam” kata Abu Nawas.

Keesokan harinya sang Raja berangkat bersama pengawalnya, Ia menyamar berpakaian ala kadarnya. Karena ia tidak ingin diketauhi rakyatnya. Raja Harun Al-Rasyid mencari telur onta  ke pasar. Sudah banyak pasar yang ia masuki, tetapi belum menemukan telur onta yang dicari. Raja tidak menyerah begitu saja. Iapun mencari kerumah-rumah warga. Tapi sayang, dia tak menemukan juga.

Meski begitu, semangat Raja Harun Al Rasyid tak kendur. Sudah ratusan kilo perjalanan yang ditempuh, hingga akhirnya ia tiba di sebuah hutan. Raja terus berusaha mencari telur tak menghiraukan pengawalnya yang sudah kelelahan. Sambil sempoyongan, sang raja terus mencarinya.
“Awas kau Abu Nawas, kalau aku tidak menemukan telur itu akan kuhukum kau!” gerutu raja. Penggawal bersiaplah untuk menghukum Abu Nawas besok!”.
“Siap Raja” kata pengawal yang sudah kelelahan. “Tetapi kita sebaiknya kembali ke Istana, sepertinya kita tidak menemukan telur itu”.
Raja Harun Al Rasyid mempertimbangkan saran sang pengawal, beberapa saat kemudian ia melihat seorang kakek yang sedang membawa ranting.
“Tunggu pengawal, kita coba tanya pada kakek itu” kata Sang Raja.

Sang Raja Harun Al Rasyid menhampiri kakek yang membawa ranting itu, melihat kondisi si kakek yang udah tua ia sangat kasihan, maka ia pun menawarkan jasa untuk membawa kayu-kayu itu. Setelah sampai dirumah kakek tadi, sang kakek berterimakasih kepada Raja Harun Al Rasyid yang ia tidak menyangka bahwa ia adalah seorang raja.
“Terima kasih cuk, semoga Allah membalas kebaikan cucuk”
“Sama-sama kek” kata raja.
“Oh iya kek, saya mau bertanya, apakah kakek punya telur Unta” tanya raja pada si kakek
“Telur Unta?”  si kakek pun berfikir sejenak.
“Hahahahaha…” tawa  si kakek. Raja Harun Al Rasyid pun heran dan bertanya apda sang kakek.
“Apa saya salah tanya kek” tanya raja keheranan. “Bisa kakek jelaskan?”
“Cuk, didunia ini mana ada telur Unta, setiap hewan yang bertelinga itu melahirkan bukan bertelur, jadi mana ada telur Unta. Mendengar penjelasan sang kakek membuat sang raja dan pengawalnya tersentak kaget.
“Benar juga mana ada telur unta, unta kan binatang melahirkan bukan bertelur” gumam sang raja.
“Awas kau Abu Nawas”

Keesokan harinya sang raja dengan kesalnya menunggu Abu Nawas yang telah mengerjainya, mondar-mandir kesana-kemari sambil komat-kamit.
“Awas kau Abu Nawas! awas kau Abu Nawas!’

Beberapa saat kemudian si Abu Nawas datang ke Istana. Ia memberi senyum jenakanya kepada raja, Raja Harun Al Rasyid langsung memarahinya
“Hai Kau Abu Nawas, beraninya kau mengerjai ku, aku tidak bisa terima ini. Dengan kesepakatan kita bahwa Aku akan menghukummu karena kamu telah membohongi aku, mana ada telur unta sedangkan unta itu kan hewan yang melahirkan.
“Anda benar Tuan Raja, kata Abu Nawas membenarkan pernyataan sang raja, telur unta itu sebenarnya tidak ada, unta hewan yang melahirkan dan bukan bertelur.
“Lantas, mengapa kau menyuruhku untuk mencari telur itu?” sanggah raja.  “Pokoknya sekarang kamu dihukum”
“Tunggu dulu Tuan Raja, sebelum saya dihukum, saya ingin bertanya”
“Tanya apa” kata raja
“Bagaimana kondisi tubuh Tuan Raja hari ini? tanya si Abu Nawas.
“Kondisi badanku, aku merasa tubuhku tidak pegal dan sakit seperti kemaren, sang raja pun terdiam sejenak.
“Abu Nawas, aku sudah sembuh, penyakitku hilang, penyakitku hilang Abu Nawas.” raja sangat gembira.
“Aku tahu, perjalananku yang amat jauh kemaren telah membuat tubuhku yang tadinya jarang bergerak menjadi bergerak dan itu membuat aliran darahku yang beku menjadi lancar kembali” itu penyebabnya, terima kasih Abu Nawas” kata sang raja
“Benar tuan, Kata Abu Nawas, tubuh yang tidak dibiasakan bergerak akan membuat darah membeku dan menjadi penyakit, maka dari itu raja rajin-rajinlah bergerak”
“Abu Nawas maafkan aku telah memarahimu, aku tidak akan menghukummu tapi aku akan berikan hadiah karena telah memberiku saran yang luar biasa.
“Terima kasih tuan raja” jawab Abu Nawas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *